" Menanti dengan Iman, Melahirkan dengan Cinta"

 

 

 

 

 
" Menanti dengan Iman, Melahirkan dengan Cinta"

Setelah hari-hari panjang dalam penantian, setelah doa yang tak henti-henti di pajatkan dalam sepi dan sujud malam, akhirnya Allah menjawab dengan waktu terbaik-Nya. aku menikah dengan penuh harap, namun tak langsung diberi kepercayaan menjadi seorang ibu. 1 Tahun 6 Bulan kulalui aku percaya, jika waktunya tiba Allah pasti akan mempercayakan.

Dan benar, setelah 1 Tahun 6 Bulan, dua garis merah itu muncul. Allah benar-benar memberikan hadiah, seorang anak dalam rahimku.

Hari-hari, menanti kelahiran pun tiba, dua hari sebelum hari besar itu, aku mendapati darah keluar cukup banyak. panik, semua pakaian segera kumasukkan ke dalam tas. suami dengan sigap menemaniku ke rumah sakit. tapi sesampainya disana, bidan hanya tersenyum dan berkata " ini biasa bu, tanda-tanda kalau bayinya sebentar lagi lahir. kalau tidak sakit, belum waktunya." Maka kamipun pulang. menanti lagi.

Tiba di tanggal 29, saat magrib, perut mulai terasa nyeri, meski tidak teratur. tapi jam 11 malam, sakitnya tak tertahankan, datang terus tanpa jeda. kami kembali ke rumah sakit. di UGD, aku masih pembukaan dua. setelah di periksa, aku dibawa ke ruang inap.

Dari tengah malam hingga pagi, pembukaan tetap sama yaitu masih pembukaan dua. Waktu terasa berjalan sangat lambat. jam 10 pagi, barulah pembukaan lima. Namun, hingga sore hari, tak ada kemajuan. pembukaan tak kunjung bertambah. Bidan datang dengan suara hati-hati, memberitahuku bahwa pinggulku sempit dan bayiku cukup besar. ini harus segera ditindak. Operasi adalah pilihan terbaik. 

Suamiku tanpa ragu menandatangani semua berkas. Wajahnya tenang, tapi aku tahu hatinya penuh gelisah. jam 15.30 aku masuk ruang operasi. Dokter kandungan yang biasa menangani ternyata sedang cuti, maka aku ditangani oleh dokter lain. Tak apa, aku hanya ingin anakku lahir dengan selamat. 

Tepat pukul 16.30, tangisan kecil itu terdengar untuk pertama kalinya.

"Selamat, anak ibu laki-laki," ucap seorang bidan sembari mendekatkannya padaku. 

Aku terdiam. Airmata mengalir begitu saja. Dalam hati aku berkata, Ya Allah, ini benar-benar nyata. aku sudah menjadi seorang ibu."

Segala rasa sakit, rasa takut dan sabar dalam penantian kini terbayar lunas dengan satu tangisan suci. 

dan anak itu ku beri nama " Afnan Abinaya Putra"                

Komentar